Menu Tutup

Belajar Kegagalan, Sosok Jerome Polin di Kalangan Anak Muda

Hai AsahSaya readers!

Siapa di antara kalian yang pernah gagal? Pasti semua pernah kan, karena tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang dalam masa perjalanan hidupnya tidak pernah gagal, selalu berhasil. Namun yang menjadi sebuah dilema adalah saat kalian pernah merasakan gagal lalu kalian takut untuk mencobanya kembali maka kalian tak akan pernah menemukan yang namanya keberhasilan yang sesungguhnya.

Sosok Jerome Polin bisa menjadi contoh untuk kaum anak muda saat ini. Gigih dan memiliki tekad yang kuat, Jerome mampu mengalahkan 16.000 pesaing lainnya saat mengikuti penerimaan beasiswa penuh S1 Mitsui Bussan pada tahun 2016. Mulai dari proses awal hingga akhir Jerome di terima di Universitas Waseda Jepang tidak serta merta terlihat mulus seperti yang kita lihat di kehidupan Jerome saat ini. Proses yang Jerome alami tidak seindah seperti yang kita lihat, bagaimana perjuangannya untuk bisa masuk ke universitas luar negeri dengan beasiswa penuh yang sejak kecil sudah dia impikan.

Belajar dari kegagalan Jerome Polin dalam meraih cita-citanya. Laki-laki kelahiran Surabaya ini pernah gagal mendapatkan beasiswa di Nanyang Technological University (NTU Singapore). Saat itu hasil tes menyatakan kalau Jerome hanya akan mendapat beasiswa 50%. Sedangkan cita-cita Jerome sejak kecil ia ingin mendapatkan beasiswa penuh di luar negeri. Namun hal tersebut tidak langsung membuat Jerome menyerah begitu saja. Dia bangkit dari kesedihannya dan mempunyai tekad yang lebih kuat agar berhasil saat mengikuti kedua kali proses penerimaan masuk universitas jalur beasiswa penuh.

Nah poin penting yang boleh kita ambil disini adalah saat kita pernah gagal satu kali, kita tidak boleh takut untuk mencobanya kembali.  Jerome banyak membagikan cerita inspirasi tentang kehidupannya lewat channel youtubenya. Tujuannya tidak lain tidak bukan Jerome ingin memberikan semangat kepada anak-anak muda khususnya di Indonesia tentang arti sebuah perjuangan dalam meraih cita-cita. Sebelum terkenal lewat konten youtubenya Jerome juga pernah mendirikan Line Math Q & A bersama kakaknya yang berisi tentang pelajaran di bidang matematika.

Banyak hal positif yang bisa kita contoh dari sosok Jerome Polin salah satunya adalah dia mampu memanfaatkan serta menyalurkan hobinya melalui perkembangan teknologi. Awal mula ia membuat konten belajar Bahasa Jepang berangkat dari keprihatinannya terhadap konten-konten yang tidak mendidik masyarakat. Jerome membuat konten yang mengedukasi masyarakat karena keresahannya terhadap banyaknya konten-konten yang tidak mendidik yang ditonton oleh masyarakat khususnya anak-anak muda di Indonesia. Dia berpikiran bahwa potensi yang dimilikinya harus berdampak positif.

Cara kecil yang dia lakukan dengan memberikan hal-hal positif yang mengedukasi khalayak umum dengan channel YouTubenya Nihongo Mantappu untuk membagi pengetahuan Bahasa Jepang kepada orang-orang Indonesia.

Namun tidak hanya fokus di Youtube saja, Jerome juga harus belajar sungguh-sungguh demi menyelesaikan kuliah S1 nya di Universitas Waseda Jepang. Untuk membagi waktu antara kuliah dan mengisi konten di akun YouTubenya, ia bisa mengambil video dan mengeditnya di sela-sela waktu kuliah. Semua yang dilakukannya penuh dengan ketekunan yang nyaris tak ada jeda istirahat.

Mencoba dan terus mencoba banyak hal baru yang terus-menerus dilakukan Jerome untuk menjadi orang yang memberi value (nilai lebih) kepada orang lain. Dalam prinsipnya, kalau saya gagal, saya akan coba lagi. Dan kalau dibayangin gagal terus selamanya kita akan gagal dan tidak akan berhasil.

Jerome Polin bukan satu-satunya kaum milenial yang mempunyai harapan untuk melakukan perubahan itu. Namun cita-citanya yang kuat sejak dulu untuk menjadi Menteri Pendidikan Indonesia memberi ruang baru bagi kalangan anak muda terutama untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia yang dinilainya masih belum menekankan pada pendidikan moralitas. Hal ini terindikasi dari maraknya praktik korupsi yang semakin hari terus bertambah.

Harapan Jerome ke depan adalah anak-anak muda Indonesia saat ini tidak meneruskan perilaku yang sudah menjadi cerminan negatif dari bangsa Indonesia tetapi mau terus bertahan dan berjuang untuk kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik dengan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan terlebih lagi bagi orang-orang di sekitar.

Artikel Lainnya :
Belajar Online Sebuah Keniscayaan
Mengejar Mimpi dan Prestasi – Belajar dari Maudy Ayunda
Apakah mendengarkan musik membuat proses belajarmu semakin baik?

Posted in SD, SMA, SMK, SMP, UMUM

Konten terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *