Menu Tutup

Masih Berstatus Pelajar, Siswa-Siswi Indonesia Ini Sudah Membuat Penemuan yang Luar Biasa

Hai AsahSaya Readers !

Pendidikan di Indonesia mungkin bisa dikatakan masih jauh dari kata ideal. Menurut Survei Political And Economic Risk Consultan (PERC),kualitas pendidikan di indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia.posisi Indonesia berada di bawah Vietnam.Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000),Indonesia memiliki daya saing yang rendah,yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia.                                                                          

Berdasarkan survei tersebut ini, bukan berarti siswa di Indonesia kekurangan prestasi. Karya ilmiah sejumlah siswa di Indonesia tidak hanya membuat kita takjub, namun dunia internasional memberikan apresiasi. Berikut karya-karya ilmiah dari para siswa di sejumlah daerah di Indonesia.


Celestine Wenardy penemu alat pendeteksi diabetes

Alat Pendeteksi Diabetes

Celestine Wenardy gadis berusia 16 tahun dari Jakarta ini berhasil membuat alat pendeteksi diabetes tanpa harus melakukan proses pengambilan darah. Alat ini memungkinkan orang untuk mengukur glukosa darah, tapi mereka tak harus mengambil darah dari jari mereka. Alat ini berfungsi dengan cara memanfaatkan panas dan cahaya untuk mendapatkan kadar glukosa yang akurat. Cara untuk mengetes diabetes dengan alat ini, sangatlah mudah. Dengan menempelkan jari pada alat dan tunggu selama 10 detik, kemudian alat tersebut akan mengukur panas dari kulit.

Alasan Celestine membuat alat ini adalah karena ia membaca sebuah artikel yang mengungkapkan bahwa penyakit diabetes dianggap sebagai silent killer di Indonesia. Ia pun sadar, bahwa Indonesia tak memiliki banyak fasilitas untuk mengatasi penyakit diabetes yang diderita oleh 10 juta orang Indonesia ini. Proyek ini adalah untuk kontribusi kembali pada komunitas dan negara saya, dan semampu saya,” ujar Celestine.

Naufal Raziq penemu energi listrik dari mengubah asam di buah kedondong

Mengubah Asam di Buah Kedondong Menjadi Energi Listrik

Naufal Raziq siswa di Aceh sejak duduk di bangku SD memang memiliki ketertarikan terhadap sains. Remaja asal Desa Tampur Paloh, Aceh Timur itu pun melanjutkan “tugas” mata pelajaran IPA sewaktu SD, yaitu menghasilkan energi listrik dengan mengubah kandungan asam dari kentang. Namun bedanya, Naufan kali ini memilih buah kandungan asam di buah kedondong pagar untuk menjadi energi listrik. Proses penelitiannya yang panjang akhirnya membuktikan bahwa Kendondong pagar atau Spodias pinatta adalah media terbaik untuk menghasilkan energi listrik. Energi yang dihasilkan mampu menyalakan sebuah lampu. Karya Naufal sudah dipatenkan. PT Pertamina EP pun sudah menggandeng Naufal dan listrik kedondong ala Naufal sudah menerangi 20 rumah di kampung halamannya. Naufal pun akhirnya membantu “menerangi” kampungnya yang telah lama selalu gelap gulita saat malam tiba.


Raafi Jaya Sutrisna dan Suprihatin penemu material industri pesawat dari limbah kulit singkong dan pelepah pisang

Limbah Kulit Sinkong dan Pelepah Pisang Menjadi Material Industri Pesawat

Raafi Jaya Sutrisna dan Suprihatin Dua siswa dari SMA PGRI 2 Kayen, Pati, Jawa Tengah, berhasil mengalahkan peneliti muda dari 35 negara dengan temuan mereka: komposit kulit singkong dan pelepah pisang. Inovasi mereka dapat diterapkan sebagai material industri pesawat terbang, kapal laut dan otomotif. Dua pelajar tersebut membuktikan bahwa hasil karyanya mereka tak kalah dari ilmuwan kelas dunia lainnya. Raafi dan Suprihatin berhasil mengolah limbah kulit singkong dan batang pisang menjadi bahan baku pesawat dan kapal.

“Limbah kulit singkong di kabupaten kami mencapai 10 ton dalam setiap bulannya. Limbah itu semakin hari semakin menumpuk. Dari situ kami memulai riset kami, dari bahan yang semula limbah menjadi karbon aktif kulit singkong,” ujar Raafi di Jakarta, Jumat, dikutip dari Antara News (19/8/2016). Selain kulit singkong, limbah batang pisang juga dapat mereka manfaatkan. Batang pisang yang telah dikumpulkan kemudian diambil seratnya satu per satu. Setelah itu dipotong-potong sekitar dua milimeter. Raafi menegaskan akan terus mengembangkan temuan mereka tersebut sehingga bisa segera diaplikasikan dalam industri otomotif dan industri lainnya secara luas.

“Jika berhasil diaplikasikan, Indonesia bisa menjadi produsen pembuatan komposit dari serat alam. Mengurangi penggunaan fiberglass dan menggantinya dengan menggunakan serat alam,” kata Raafi. Serat batang pisang dan kulit singkong kemudian dicampurkan menggunakan resin dan katalis. Lalu menggunakan komposit tertentu, jadilah komposit dari limbah batang pisang dan kulit pisang sebagai bahan alternatif industri otomotif kapal maupun pesawat. Komposit yang berasal dari bahan alami ini mereka klaim lebih efisien, ringan, kuat, dan tahan api, sehingga terbuka kemungkinan untuk digunakan untuk industri secara luas.


Christopher Farrel Millenio Kusuma penemu
“Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data”

Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data

Christopher Farrel Millenio Kusuma, siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta ini membuat penelitiannya berjudul “Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data” . Ide penelitian yang mengantarkannya ke Google berawal dari hal sepele. Farrel ingin mengunduh sebuah game. Namun, kuota data yang dimilikinya terbatas. Waktu itu, Farrel masih duduk di kelas 1 SMA. Dari keinginannya main game tersebut, Christopher Farrel Millenio lalu mulai mencari di internet cara mengecilkan data. Dari pencariannya itu menemukan data compression atau pemampatan data. “Saya iseng-iseng mencari lalu riset dan ternyata, data compression belum begitu berkembang, ya lalu muncul ide untuk meneliti karena dampaknya luas juga,” katanya. “Dari situ tau yang namanya Zip dan Rar.

Zip dan Rar merupakan file kompresi yang memungkinkan beberapa file untuk dikumpulkan menjadi satu dengan ukuran yang lebih kecil. Setelah kurang lebih satu setengah tahun, Farrel berhasil menciptakan penelitian yang diberi judul “Data Compression Using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data”. Proposal penelitiannya tersebut sudah diajukan dalam setiap lomba di Indonesia, namun tak kunjung lolos. Ferrel mengatakan, kurang lebih 11 kali event belum ada yang nyangkut. Namun, prinisip hidup 5 T (takon, teken, teteg, tekun, tekan) membawanya ke Amerika Serikat untuk menunjukkan kebolehannya di hadapan ilmuwan dan peneliti. Ferrel berada di kantor Google Mountain View, California, Amerika, dari tanggal 15-20 Februari 2017.

Berdasarkan penjelasan diatas hebat-hebat sekali para pelajar di Indonesia, yang sudah bisa berinovasi dimasa muda mereka. Kamu semua bisa menjadi ilmuwan muda, yaitu salah satunya kamu bisa mencontoh prinsip hidup seperti Ferrel yaitu prinisip hidup 5 T (takon, teken, teteg, tekun, tekan). Walaupun Pendidikan di Indonesia tidak seperti di negara maju, tetapi Indonesia bisa mencetak para pelajar “ilmuwan cilik” yang dengan penemuannya bisa bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dan juga mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Kamu semua bisa mendapatkan ilmu dimana saja, bukan hanya di sekolah. Belajar di AsahSaya (Layanan Edukasi Interaktif) kamu sudah bisa mendapatkan ilmu dari guru-guru professional dan sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dengan metode kelas virtual yang baru ada di Indonesia. Cek websitenya yuk di www.asahsaya.com

Sumber :

https://regional.kompas.com/read/2018/07/27/06000041/8-penemuan-karya-pelajar-indonesia-dari-kedondong-hingga-asap-rokok?page=all.


https://health.grid.id/read/351808174/gadis-indonesia-ini-temukan-alat-pendeteksi-diabetes-tanpa-cek-darah-hingga-menangkan-award-dari-google?page=2 

https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/tiga-inovasi-ilmuwan-muda-indonesia-mendapat-penghargaan-dari-bosch

Artikel Lainnya :

Ensiklopedia Fisika

3 Penyebab Air Laut Berwarna Biru

5 Tips Yang Bisa Membuat Matematika Menjadi Mata Pelajaran Menyenangkan

Posted in UMUM

Konten terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *